Wednesday, 10. March 2010
DINAMIKA POLITIK JAWA TENGAH PDF Print E-mail
Tuesday, 08 September 2009 07:20
A. Geo-Politik Jawa Tengah

Jawa Tengah boleh dibilang tergolong homogen dari segi etnis dan budayanya. Mayoritas penduduknya, 98 persen, bersuku Jawa dan dalam keseharian menggunakan bahasa Jawa. Saking seragamnya, orang Jepara yang terletak di pesisir utara dapat dengan mudah mengerti ucapan bahasa Jawa yang dikeluarkan orang Kebumen yang lokasinya di pesisir selatan meskipun dengan dialek yang berbeda. Akan tetapi, kesamaan etnis ini tidak terjadi dalam preferensi politiknya. Jepara pada Pemilu 2004 dimenangi oleh Partai Persatuan Pembangunan yang berasas Islam, sedangkan Kebumen dikuasai oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) yang berideologi nasionalis. Dari sini tampak bahwa Jateng terbagi menjadi dua ”mazhab” besar, nasionalis dan Islam.

Pilihan politik nasionalis lebih banyak dianut penduduk wilayah pedalaman, sedangkan partai-partai yang mengusung ideologi Islam banyak mendapat tempat di pesisir utara. Namun, penguasaan pemilihnya lebih condong ke nasionalis. Dengan partai pemenangnya adalah PDI-P. Jika suara pemilih partai-partai nasionalis pada Pemilu 2004 digabung dan dilawankan dengan gabungan partai-partai Islam, proporsinya mencapai 60 persen banding 40 persen.

Segregasi pilihan politik ini ternyata bukan hanya bersifat struktural, tetapi juga bersifat kewilayahan. Pemilahan wilayah terjadi antara daerah pesisir utara dan pedalaman. Wilayah utara banyak dikuasai partai-partai Islam seperti PPP dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), sedangkan pedalaman dikuasai oleh PDI-P.

Pola kecenderungan politik ini relatif stabil, tidak berubah, dan sudah terjadi sejak Pemilu 1955. Ini menunjukkan seakan-akan pola politik aliran yang terjadi sejak pemilu pertama itu tidak berubah hingga kini. Menurut Herbert Feith (1999), politik aliran memang masih kuat, khususnya di Jawa. Pilihan politik penduduk di wilayah lebih banyak dipengaruhi faktor kepercayaan dan kecurigaan daripada faktor pilihan program- program yang ditawarkan partai politik.

Fakta ini sungguh menarik. Jika ditilik sejarahnya, pandangan Feith dapat ditelusuri jejaknya. Perbedaan kultur politik pesisir utara dan pedalaman sudah terjadi sejak era kedatangan Islam di Jawa pada abad ke-14. Islam masuk lewat pesisir utara. Menurut pandangan guru besar Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro, Prof Dr Djuliati Suroyo, wilayah pesisir atau pasisiran adalah wilayah yang relatif terbuka terhadap pengaruh luar. ”Di wilayah ini, Islam lebih mudah masuk karena pengaruh Hindu-Buddha relatif tidak sekuat di wilayah pedalaman,” kata Djuliati. Ketika pusat kerajaan Jawa berpindah dari pesisir utara ke wilayah pedalaman, di Surakarta dan Yogyakarta mulai muncul pembagian ”kasta” wilayah berdasarkan pengaruh keraton. Dari kacamata orang Jawa, kedua pusat kota menjadi wilayah inti, sedangkan wilayah pesisir utara tergolong wilayah monconegara.

Meskipun sejak abad ke-18 hampir seluruh Jateng secara resmi beragama Islam, intensitas keagamaannya berbeda. Pusat Islam tetap di daerah pesisir utara dan cenderung berkebudayaan santri. Sebaliknya, meskipun keraton- keraton Jawa yang terletak di pedalaman secara resmi memeluk agama Islam, dalam gaya kehidupannya pengaruh tradisi Hindu-Jawa lebih menonjol. Pemilu 2009 Kini pegangan penduduk Jateng dalam memilih partai sebagian besar tertuju pada PDI-P. Dalam dua pemilu terakhir, perolehan suaranya tetap di urutan pertama.

B. Peta Legislatif

Kemenangan di Jateng merupakan rekor ketiga bagi PDI-P. Meskipun demikian, sukses partai ini mempertahankan kemenangan di sini tidak diikuti dengan lonjakan suara. Walau dalam pilkada sebelumnya posisi gubernur dan wakilnya berhasil diraih oleh PDI-P, tetapi pencapaian suara dan penguasaan wilayah PDI-P dalam Pemilu 2009 cenderung turun. Di pemilu 1999, PDI-P mendulang 42,83 persen suara dengan menguasai 33 dari 35 kabupaten/kota di Jateng. Lalu, pada Pemilu 2004 partai pimpinan Megawati Soekarnoputri ini meraup 29,75 persen suara dengan menguasai 24 kabupaten/kota. Tahun ini, suara PDI-P tercatat 21,95 persen dan hanya menguasai 22 kabupaten/kota.

Dalam Pemilu 2009 ini, Partai Golkar dan Partai Demokrat menjadi partai yang ”mencuri” wilayah-wilayah yang sebelumnya dikuasai PDI-P. Hasil Pemilu 2009 mencatat Partai Demokrat berhasil menyodok di peringkat kedua setelah PDI-P dengan 15,96 persen suara dan menguasai enam kabupaten/kota. Dari enam wilayah yang dikuasai, empat di antaranya adalah basis PDI-P pada Pemilu 2004, yakni Kabupaten Semarang, Purworejo, Kendal, dan Kota Magelang. Adapun dua wilayah lainnya yang direbut Partai Demokrat adalah Salatiga yang sebelumnya dikuasai Partai Golkar dan Rembang yang pada Pemilu 2004 menjadi basis PPP.

Setelah Partai Demokrat, Partai Golkar berada di posisi ketiga dengan 12,77 persen suara. Jika pada Pemilu 2004 Golkar hanya menguasai Kabupaten Salatiga dan Temanggung, kali ini Partai Golkar berhasil menguasai empat kabupaten/kota, yakni Kabupaten Kudus, Jepara, Demak, dan Kota Pekalongan, yang sebelumnya dikuasai oleh partai politik bercorak Islam, seperti PKB dan PPP.

C. Pilkada dan Pilpres.

Jauh hari sebelum Pemilihan Kepala Daerah Propinsi Jawa Tengah pada tahun 2008 yang lalu sudah dapat ditebak siapa yang paling berpeluang sebagai pemenang, yaitu siapa saja yang diusung oleh PDIP dan prediksi ini tepat sebagai pemenangnya adalah calon yang diusung oleh PDIP, Bibit Waluyo-Rustriningsih. Komisi Pemilihan Umum, Jawa Tengah, pada hari Senin 1 Juli 2008, menetapkan sebagai pemenang pemilihan kepala daerah Provinsi Jawa Tengah periode 2008-2013 menang di 29 dari 35 kabupaten/kota se-Jateng.

Bibit-Rustriningsih mendapat 6.084.261 suara atau 43,44 persen. Mereka mengalahkan, Bambang Sadono-Muhammad Adnan (Golkar) yang meraih 3.192.093 atau 22,79 persen. Lalu, Sukawi Sutarip-Sudharto (Demokrat dan PKS) yang meraup 2.182.102 (15,58), dan pasangan Muhammad Tamzil-Rozaq Rais calon dari PPP dan PAN, di posisi kunci, dengan suara 1.591.243 atau 11,36 persen.

Dalam pemilihan gubernur pada tahun 2008 tersebut, meneguhkan partai Banteng mesih menjadi terkuat di Jateng dan juga menjadikan provinsi tersebut sebagai basis politik terbesar di Jawa. Juga tak kalah penting dan menjadi kebanggaan adalah pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) bupati/wakil bupati, walikota/wakil walikota, termasuk pemilihan gubernur/wakil gubernur di Jawa Tengah (Jateng) sepanjang Tahun 2008, dinilai terbaik di Indonesia karena semuanya berlangsung lancar dan kondusif.

Pengalaman bertahun-tahun di wilayah ini, PDIP mejadikan basis utama pemilihnya dan akan menjadi mesin utama dalam pemilihan presiden 2009 yang mengusung Megawati-Prabowo. Demikian ulasan Tempo bahwa Calon Presiden Megawati Soekarnoputri berharap Jawa Tengah bisa kembali menjadi lumbung suaranya dalam pemilu presiden 8 Juli nanti. Selama ini, Jawa Tengah dianggap sebagai daerah basis Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Apalagi Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo saat ini telah bersedia ikut berkampanye.

Namun, sangat disayangkan menjelang pemilihan presiden (Pilpres) 8 Juli 2009, Gubernur – Wakil Gubernur Jateng, Bibit Waluyo – Rustriningsih, tak kompak. Bibit – Rustri yang diusung oleh PDI Perjuangan (PDIP) pada Pilgub Juni 2008 lalu, berbeda pandangan soal upaya memenangkan Megawati sebagai capres PDIP. Bibit bersikukuh akan bersikap netral dan tak akan kampanye untuk Megawati dan PDIP, sementara Rustri sebaliknya. Rustri yang juga ketua DPC PDIP Kebumen menyatakan tetap akan loyal ke partai dan siap memerahkan Jawa Tengah demi kemenangan Megawati sebagai presiden.

Ketidakkompakan mesin politik di Jawa Tengah menjadikan berakibat cukup fatal dalam pemilihan presiden 2009 yang mungkin juga diikuti oleh Kepala Daerah di tingkat Kabupaten/Kota. Berdasarkan hasil rekapitulasi suara calon presiden dan wakil presiden  untuk Jawa Tengah menunjukkan bahwa pasangan Megawati-Prabowo memperoleh 6,694,981 suara (38.28%), SBY-Budiono 9,281,132 suara (53.06%) dan JK-Win 1,514,316 suara (8.66%). Tentu saja hasil ini jauh dari prediksi banyak pihak, sehingga benar bila ada komentar dari salah satu pengurus PDI-P, Tjahjo Kumolo bahwa banyak kader PDI-P di pemerintahan daerah yang tidak bekerja maksimal untuk memenangkan pasangan Megawati-Prabowo. Salah satu “tersangka” adalah Gubernur Jateng, Bibit Waluyo.

C. Penutup

Dinamika politik Jawa Tengah cukup unik dan pergeseran-pergeserannya berjalan cukup kuat sehingga Jawa Tengah akan menjadi medan pertempuran semua partai, PDIP tidak lagi bisa menyebut Jawa Tengah sebagai basis masanya, Pilpres 2009 cukup menjadi bukti bahwa Jawa Tengah menjadi perebutan dan akan menjadi perebutan semua partai dan semua orang memiliki kesempatan yang sama dalam seluruh pemilu diwilayah ini.

Koresponden Reform Institute

M. Roem Syibly

 

 

 

 

 

 

 

 

 
"Dalam menghadapi masalah, bahaya dan kekecewaan, jangan sampai menghilangkan pengharapan. Yang terburuk dapat selalu teratasi.". Ernest Shackleton